Rabu, 27 Maret 2013

BERFIKIR DEDUKTIF


Silogisme adalah suatu bentuk proses penalaran yang berusaha mengubungkan dua proposisi yang berlainan untuk menurunkan suatu kesimpulan atau inferensi yang merupakan proposisi yang ketiga. Secara khusus silogisme kategorial dapat dibatasi sebagai suatu argument deduktif yang mengandung suatu rangkaian yang terdiri dari tiga proposisi kategorial yang disusun sedemikian rupa sehingga ada tiga term yang muncul dalam rangkaian pernyataan, namun tiap-tiap term hanya boleh muncul dalam dua pernyataan misalnya:
1.      Semua buruh adalah manusia pekerja
2.      Semua kuli bangunan adalah buruh
3.      Jadi, semua kuli bangunan adalah manusia pekerja.
Silogisme merupakan suatu proses penarikan kesimpulan yang didasarkan atas pernyataan-pernyataan ( proposisi yang kemudian disebut premis ) sebagai antesedens ( pengetahuan yang sudah dipahami ) hingga akhirnya membentuk suatu kesimpulan ( keputusan baru ) sebagai konklusi atau konsekuensi logis. Keputusan baru tersebut selalu berkaitan dengan proposisi yang digunakan sebagai dasar atau dikemukakan sebelumnya. Oleh karena hal tersebut, perlu dipahami hal-hal teknis berkaitan dengan silogisme sehingga penalaran kita benar dan dapat diterima nalar.
Sehubungan dengan hal tersebut perlu diperhatikan konsep-konsep berikut ini :

1. Pernyataan pertama dalam silogisme disebut premis mayor, sedangkan pernyatan kedua disebut premis minor.
2. Dalam silogisme hanya terdapat tiga term ( batasan ), yaitu term I : predikat dalam premis mayor ( B ), term II : predikat dalam premis minor ( C ), dan term III / antara, yaitu term yang menghubungkan antara premis mayor dan premis minor ( A ).
3. Dalam sebuah silogisme hanya ada tiga proposisi, yaitu premis mayor, premis minor, dan kesimpulan.
4. Bila kedua premis negatif, tidak dapat ditarik kesimpulan.
5. Bila salah satu premisnya negatif, tidak dapat ditarik kesimpulan yang sahih.
6. Bila salah satu premis partikular, kesimpulan tidak sahih.
7. Kedua premis tidak boleh partikular.
8. Rumus:
PM (premis mayor) : A = B
Pm (premis minor) : C = A
Kesimpulan : C = B


Oleh karena itu, dalam menyimak atau mendengarkan atau menerima pendapat seseorang, kita perlu berpikir kritis melihat dasar-dasar pemikiran yang digunakan sehingga kita dapat menilai seberapa tingkat kualitas kesahihan pendapat itu. Dalam hal seperti ini kita perlu mnenentukan:
1.      kesimpulan apa yang disampaikan
2.      mencari dasar-dasar atau alasan yang dikemukakan sebagai premis-premisnya
3.      menyusun ulang silogisme yang digunakannya; kemudian melihat kesahihannya berdasarkan ketentuan hukum silogisme.
Silogisme hipotesis adalah semacam penalaran yang mengandung hipotese. Silogisme hipotesis bertolak dari suatu pendirian, bahwa ada kemungkinan apa yang disebut dalam proposisi itu tidak ada ataupun tidak terjadi. Oleh sebab itu rumus proposisi dari silogisme ini adalah sebagai berikut:
Jika P, maka Q
Untuk mudahnya perhatikan bentuk silogisme hipotesis berikut:
Premis mayor: Jika terjadi kemarau panjang, maka panen akan gagal
Premis minor: Hujan tidak turun
Konklusi: Sebab itu panen gagal.
Walaupun premis mayor bersifat hipotesis, tetapi premis minor dan konklusinya bersifat kategorial.
Selain silogisme hipotesis terdapat juga silogisme alternatif, silogisme alternatif. Silogisme ini dinamakan tersebut karena proposisi mayornya merupakan sebuah proposisi alternatif. Yaitu proposisi yang mengandung kemungkinan-kemungkinan atau pilihan-pilihan. Sebaliknya proposisi minornya adalah proposisi kategorial yang menerima atau menolak salah satu alternatifnya. Contoh dari silogisme alternatif adalah sebagai berikut:
Premis mayor: Ibu ada di pasar atau di dapur.
Premis minor: Ibu ada di pasar.
Konklusi: Sebab itu ibu tidak ada di dapur.
Entimem merupakan bentuk singkat silogisme dengan jalan mengubah format yang disederhanakan, tanpa menampilkan premis mayor. Bentuk silogisme ini bisa dimunculkan dalam dua cara: 1) C=B karena C=A, dan 2) Karena C=A, berarti C=B. Bentuk penalaran ini bisa dikembangkan dalam format yang lebih detail bagian per bagian yang akan memperbanyak gagasan dan konsep. Hubungan logis memegang peran utama dalam penalaran tipe ini. Pada umumnya entimem dimulai dari kesimpulan, hanya saja ada alternatif mengemukakan sebab untuk sampai kepada kesimpulan.umumnya entimem dimulai dari kesimpulan, hanya saja ada alternatif mengemukakan sebab untuk sampai kepada kesimpulan. Contoh entimen adalah sebagai berikut:
Premis mayor: Atlet bulu tangkis yang terpilih mengikuti Thomas cup adalah seorang pemain kawakan.
Premis minor: Taufik hidayat terpilih untuk mengikuti pertandingan Thomas cup.
Konklusi: Sebab itu Taufik hidayat adalah seorang atlet bulu tangkis kawakan.


Sumber: Gorys Keraf Argumentasi dan Narasi PT Gramedia pustaka 2003.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar